MIMPI ITU TERJADI LAGI
Senin 25 Mei 2009.
Masa lalu kadang menghantui, mungkin inilah yang sat ini kurasakan. Hidupku rasa tenangku dua tahun terakhir saat aku telah kembli pada kehidupanku yang kuharapan dia bagai bayangan yang setiap kali muncul diantara sinar terang yang selalu ikut menempel di badan wadaku. Trauma yang ditorehkannya aku selalu menyebutkannya sebagai luka cacat yang dapat sembuh namun tak lagi memulihkan keadaanku seperti sedia kala. Setelah hampir setahun ini tak lagi menggangguku tengah malam ini dia muncul lagi dalam mimpiku.
Aku telah mencoba memaafkannya namun sejujurnya aku belum sepenuhnya bisa, ini terjadi setiap kali aku mandi bayang perbuatannya hadir terlintas di mataku setiap butiran air menyiram tubuhku dan aku selalu mengumpatnya dengan BAJINGAN NANDA, SEMOGA DIA LEKAS MATI ATAU DITANGKAP POLISI DAN MATI MENDERITA DI PENJARA. DAN AKU AKAN MELUDAHI KUBURANNYA. Oh Tuhan betapa aku menginginkan dia menderita dalam hidupnya.
Seseorang mengatakannya kepadaku bahwa menaruh dendam dalam jiwa akan lebih membuat hidup kita tidak tenang, sehingga dia menyarankan kalo kita belum bisa memaafkan maka ketika teringat kebencian itu muncul sebelum terlontar ucapan mengumpat hendaklah BERISTIGFAR kepada ALLAH SWT. Syukur Alhamdulillah itu sedikit meringankanku dalam menanam benih kebencian yang lebih dalam kearah dendam.
Wah padahal aku ingin bercerita tentang mimpiku……………!
Jalanan Palangkaraya siang itu terasa lengang dan sepi sekali. Aku berjalan di trotoar jalanan menuju asramaku. Tanpa kusadari seseorang mengikuti dibelakangku. Ketika hendak kuseberangi jalan aku palingkan wajah ke kiri dan ke kanan untuk mengawasi lalu lintas. Dadaku terhenyak saat kulihat sosok yang sudah sangat kukenal selama lima tahun terakhir menemaniku. Kalkulasiku 2 tahun bersamanya adalah saat termanis, namun 3 tahun terakhir aku baru menyadari bajingan satu ini ternyata seorang psikopat posesif. Suatu anugrah aku dapat lepas dari cengkramannya untuk melanjutkan cita dan asaku yang selama ini terkungkung olehnya seolah nafasku tinggal di tenggorokannya yang hanya boleh keluar saat aku mendesah dalam dekap percintaannya yang setiap saat dia inginkan sebagai sorang maniak.
Dia berdiri 10 meter jauhnya dariku, dengan senyum palsu namun harus kuakui dia tetap necis dan tampan seperti biasanya seperti tokoh vilian dalam DIE HARD. Metroseksual namun mematikan. Kutegarkan hatiku untuk menghadapinya, karena itulah niatku sejak aku meninggalkannya. Karena aku berjanji pada diriku sendiri dia tidak akan kembali lagi dalam kehidupanku walaupun aku harus akui kehangatannya sungguh luar biasa.
“ Apa kabar?” sapanya
“Baik.” Jawabku singkat.
Padangannya berubah memelas, “ Maafkan aku biarkan aku kembali kepadamu, karena aku tak dapat melupakan cintaku buatmu, bagiku kau adalah yang pertama dan yang terakhir. Aku meminta maaf atas segalanya”. Karena aku telah bersumpah bahwa segala hal akan kuhadapi asal aku dapat bersamamu kembali.”
Kamu ingat kalau aku pernah berjanji aku akan mendatangimu dan mencarimu dimanapun kamu berada. Kelebat sorot mata ancaman masih kurasakan saat edia mengucapkan, tiada yang berhak memilikimu selain diriku.
Ya Tuhan ternyata asumsiku padanya sama sekali tidak salah. Dia tak akan berubah sampai kapanpun.
“Kalau kamu dating untuk meminta maaf padaku, telah lama aku memaafkanmu dan itu membuatku lebih tenang menatap hidup, namun jika kau mengharapkan untuk kembali padaku lagi itu tidak bisa. Lupakan saja aku, karena skr aku merasa lebih bahagia tanpa kamu.
Dia maju selangkah mendengar intonasi suaraku yang jelas dalam kemantapan hati tanpa ada ketakutan. Aku terdiam di tempat semula, dan dalam hatiku berharap sanggup melawan gelora amarah yang hendak meletup, ku coba sedapat mungkin ekspresi yang kutampakkan setegar batu karang yang tak tergeser oleh wajah palsunya.
“Apa kamu tak pernah memikirkanku betapa berat pencarianku selama ini untuk menemukanmu kembali.”
Itulah resiko yang harus kau hadapi dengan pemikiran gilamu, jawabku tenang. Dan kalaupun sekarang kau telan pil pahit kembali itulah resiko berikutnya . Tapi aku tak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali. Tangannya menyergap pundakku dan mencengkramnya dengan keras. Refleks tanganku menghentak dan menghelanya. Saat itulah aku tersadar dalam mimpiku.
Kuhela nafas dalam mengatur gemuruh dan sesak di dadaku. Terima Kasih Ya ALLAH ini Cuma mimpi.
Aku berharap tiada lagi terror dalam hidupku darinya.

jiahhh.... masa lalu yg buat anda selalu terkenang... mana mungkinn anda lupa semuanya...aneh...
BalasHapus